lblia.com

Bagaimana Guru Bahasa Membawa Kreativitas ke dalam Kelas?

Kalau mendengar kata kreatif, apa sih yang terbersit dalam pikiran kita?

Kreativitas adalah hal yang sangat luas. Meskipun mudah untuk melihat kreativitas sebagai keterampilan tertentu dan menganggap seseorang kreatif jika dia dapat menggambar atau membuat pekerjaan tangan, pada kenyataannya ruang lingkup kreativitas jauh melebihi hal itu.

Menurut Robert E. Franken, penulis buku Human Motivation, kreativitas adalah kecenderungan untuk menghasilkan (atau mengenali) ide-ide, alternatif, atau kemungkinan yang bermanfaat untuk:

  1. Menyelesaikan masalah
  2. Berkomunikasi dengan orang lain
  3. Menghibur diri dan sesama.

Dengan demikian, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa kreativitas telah menjadi kekuatan pendorong di balik segala inovasi canggih yang kita lihat dari waktu ke waktu. Kita saat ini dikelilingi oleh berbagai modernisasi yang tidak akan terjadi jika bukan karena orang-orang kreatif, yang gigih dalam menemukan cara baru untuk memecahkan berbagai jenis masalah.

Kreativitas dan inovasi telah memberikan pemahaman yang lebih dalam atas sebuah konsep. Guru dan institusi pendidikan, baik formal maupun non formal, sudah mulai menggunakan bentuk pengajaran yang kreatif dan eksperimental untuk mengembangkan siswa-siswanya. Metode kreatif ini sangat penting dalam membantu siswa untuk mengeksplorasi berbagai minat dengan memanfaatkan kekuatan mereka sendiri. Tujuan akhirnya adalah menjadikan para siswa kreatif, berpengetahuan, mandiri, percaya diri dalam berekspresi, serta siap dalam menghadapi kehidupan di luar kelas.

Lingkungan kelas yang baik selalu memiliki beberapa unsur kreativitas yang membuat pembelajaran jadi menarik dan interaktif. Bagaimana dengan kelas bahasa? Mengapa kreativitas penting dalam kelas bahasa? Bisakah kreativitas diajarkan dalam kelas bahasa? Bagaimana caranya?

Pertama-tama, mari kita lihat dulu mengapa upaya untuk memperkenalkan kreativitas ke dalam kelas bahasa layak untuk dilakukan.

  1. Penggunaan bahasa itu sendiri merupakan sebuah tindakan kreatif. Dengan bahasa kita mengubah pikiran menjadi alat untuk berkomunikasi. Dengan bahasa kita mampu menghasilkan kalimat dan bahkan teks panjang yang bisa menginspirasi orang lain. Dengan memberikan latihan-latihan kreatif kepada para siswa, kita mendorong mereka untuk mempraktikkan sub-keterampilan yang penting dalam penggunaan bahasa, yaitu berpikir kreatif.
  2. Strategi kompensasi (strategi yang digunakan seseorang untuk menutupi kekurangan bahasa dalam situasi komunikatif) seperti melakukan gerakan tertentu, menggambar, atau menggunakan parafrase dalam menjelaskan sesuatu, akan memaksa para siswa untuk berekspresi secara kreatif dan imajinatif. Pembelajar bahasa akan membutuhkan strategi ini sampai mereka menguasai bahasa yang sedang dipelajari.
  3. Sebagai guru bahasa asing, mungkin Anda memiliki pengalaman dimana beberapa orang tidak bisa belajar sama sekali jika tidak dibiarkan berkreasi. Mereka membutuhkan aktivitas latihan yang memungkinkan mereka untuk berpikir kreatif, seperti diskusi, role play, atau studi kasus.
  4. Anda juga pasti memiliki pengalaman dimana kebanyakan orang menjadi lebih termotivasi, terinspirasi, atau tertantang jika mereka dapat menciptakan sesuatu yang bernilai.
  5. Kreativitas meningkatkan harga diri karena siswa dapat melihat solusi yang mereka ciptakan sendiri untuk masalah yang sedang dihadapi, dan mereka akan bangga melihat apa yang telah mereka capai.
  6. Pekerjaan kreatif di kelas bahasa dapat mengarah pada komunikasi dan kerjasama yang tulus. Saat siswa menggunakan bahasa untuk melakukan tugas kreatif, mereka sesungguhnya sedang menggunakan bahasa sebagai alat dalam fungsi aslinya. Hal ini akan mempersiapkan mereka untuk menggunakan bahasa dalam fungsi-fungsi lainnya di luar kelas.
  7. Tugas kreatif memperkaya pekerjaan kelas, dan membuatnya lebih bervariasi dan lebih menyenangkan, karena melibatkan beragam bakat, ide, dan pemikiran – baik dari siswa maupun guru.
  8. Berpikir kreatif adalah keterampilan yang penting dalam kehidupan. Kreativitas adalah bagian dari strategi bertahan hidup, dan merupakan kekuatan di balik pertumbuhan pribadi dan perkembangan budaya.

Sekarang kita beralih kepada pertanyaan berikutnya, dapatkah kreativitas diajarkan? Tentu saja, kreativitas dapat dipelajari dari waktu ke waktu jika dilatih dengan tepat.

Guru bahasa memiliki keunggulan yang dapat membantu merangsang kreativitas siswanya. Kelas bahasa tidak dibatasi oleh mata pelajaran atau pengetahuan khusus. Oleh karena itu, guru bahasa bebas membangun pelajaran mereka pada topik apapun dan dapat tetap fokus pada bahasa.

Lalu bagaimana guru bahasa mendorong kreativitas di dalam kelas?

Bagaimana Guru Bahasa Membawa Kreativitas ke dalam Kelas?
  1. Mendorong siswa untuk memecahkan masalah

Fleksibilitas adalah faktor yang penting dalam mendorong kreativitas. Guru dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menghasilkan solusi dan ide unik dengan cara mendorong siswa untuk menyelidiki berbagai kemungkinan serta mencoba dan terus mencoba sampai berhasil memecahkan masalah (seperti dalam permainan kosa kata, grammar challenge, dan sebagainya). Hal ini akan melatih seorang pembelajar menjadi lebih tangguh dan percaya diri dalam memecahkan masalah secara mandiri.

  1. Buat tugas yang bermakna yang memungkinkan siswa untuk bermain dengan kekuatan mereka

Tidak ada dua orang yang sama, dan karena itu tidak ada dua siswa yang perlu belajar dengan cara yang persis sama. Guru dapat membuat tugas yang sesuai dengan kekuatan unik setiap siswa, baik itu memakai topik yang dipersonalisasikan, atau melalui format yang disesuaikan dengan kekuatan unik masing-masing siswa. Akan lebih mudah bagi guru untuk mendorong kreativitas yang orisinil dari siswa ketika guru berhasil meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam tantangan yang diberikan.

  1. Bangun ruang yang aman dan terbuka di mana kegagalan diterima dengan baik

Peran kreativitas di kelas adalah tentang menciptakan lingkungan yang aman dan ramah di mana ide dapat mengalir dengan bebas dan siswa dapat mencoba dan menguji solusi kreatif mereka sendiri, tanpa tekanan ‘harus melakukannya dengan benar’. Penting bagi guru untuk mengizinkan siswanya mengeksplorasi berbagai solusi untuk tumbuh dan berkembang.

  1. Menyesuaikan kegiatan dan metode pembelajaran siswa secara individu

Mungkin karena kita sering menghubungkan kreativitas dengan kemampuan artistik, kita sering menganggap anak yang suka menggambar dan melukis itu kreatif, meskipun hal ini bisa dibilang terlalu sempit. Kreativitas dan kemampuan untuk memiliki minat dalam belajar datang dalam berbagai bentuk dan berbeda bagi setiap siswa. Guru perlu menyadari akan adanya perbedaan ini dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai. Misalnya, beberapa siswa mungkin merupakan pembelajar visual, yang lain mungkin lebih suka belajar dengan melakukan, atau menonton, atau mendengarkan untuk menyerap informasi.

  1. Tantang diri Anda dengan perspektif orang dewasa di dalam ruangan

Menciptakan kelas yang menarik dan kreatif dapat menjadi tantangan, terutama di lingkungan pembelajaran jarak jauh dimana guru mengajar siswa melalui layar. Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan para guru adalah merangkul kreativitasnya sendiri. Bagaimana Anda akan mengajar kelas Anda jika Anda tidak bisa berbicara? Apakah Anda akan menggambar? Apakah Anda akan menggunakan simbol? Apakah Anda akan menulis pesan rahasia menggunakan emoji dan meminta siswa Anda mencari tahu? Apakah Anda akan bermain tebak-tebakan? Jika kita menantang diri kita sendiri sebagai orang dewasa, kita tidak punya pilihan selain menjadi kreatif dalam cara kita mengajar.

  1. Optimalkan proyek kelompok

Proyek kelompok sangat bagus untuk mendorong kolaborasi dan pemecahan masalah. Bekerja dalam tim akan mendorong siswa untuk memperhitungkan ide dan cara kerja orang lain. Ketika seseorang berada di sebuah ruangan dengan beragam pendapat dan pemikiran yang berbeda, mereka tidak punya pilihan selain menjadi kreatif dalam melakukan pendekatan, agar pemecahan masalah dapat dicapai tanpa membuat pihak manapun dirugikan.

  1. Manfaatkan alat digital gratis

Ada begitu banyak alat digital yang dapat membuat tugas tradisional menjadi lebih kreatif. Mulai dari lembar kerja digital dan presentasi yang tersedia di Canva hingga video di YouTube dan berbagai sumber materi pengajaran yang dapat diunduh.

Salah satu contoh cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan hal yang telah kita diskusikan di atas adalah dengan membuat student-generated sources ketika seorang guru bahasa mengajarkan keterampilan membaca.

Banyak guru hanya mempercayai bahwa adalah tugas mereka saja untuk memilih teks dan kegiatan bagi siswa tanpa menyadari bahwa bisa saja siswa tidak terlalu tertarik dengan materi yang telah disiapkan.

Seorang guru bahasa yang kreatif dapat menggunakan strategi “silabus yang dinegosiasikan” dan meminta para siswa untuk menemukan materi yang menurut mereka berguna, serta memutuskan sendiri aktivitas mana yang ingin mereka coba. Kegiatan ini dapat meningkatkan otonomi siswa sekaligus mengakomodir berbagai gaya belajar mereka.

Hal ini dapat dilakukan dengan:

  • Guru meminta para siswa untuk menjelajahi bidang minat mereka dan memilih teks yang mereka anggap menarik dan berkualitas tinggi.
  • Siswa mengirimkan teks kepada guru.
  • Guru membaca teks kiriman para siswa sebelum sesi berikutnya.

Pada titik ini, guru dapat memilih untuk mengambil kendali dan memutuskan kegiatan apa yang akan dilakukan, berdasarkan teks yang dikumpulkan. Tugasnya kemudian adalah menemukan bagian yang tepat dari teks yang dikumpulkan yang paling sesuai dengan tujuan pengajaran.

Alternatif lainnya adalah, guru dapat meminta para siswa untuk mengidentifikasi isu-isu yang ‘menarik’ dan mengikuti kebutuhan khusus mereka. Untuk membantu mereka mengidentifikasi masalah, guru dapat meminta para siswa untuk:

  • Membandingkan teks mereka sendiri dengan teks teman sekelas mereka, dan melihat perbedaan atau persamaan apa yang mereka temukan.
  • Memilih satu teks dan memparafrasekan teks dengan kata-kata mereka sendiri.
  • Mengidentifikasi ide-ide utama dalam setiap teks.
  • Mengidentifikasi posisi penulis teks.
  • Mendiskusikan strategi pencarian internet mereka.
  • Memilih teks yang paling menarik, teks yang paling tidak mudah dipahami, teks dengan tingkat penggunaan tertinggi atas struktur tertentu, teks dengan rentang kosakata terluas, atau fitur lain yang ingin menjadi fokus kelas.

Cara seperti ini memberikan manfaat yang beragam bagi guru dan siswa. Guru dapat menjauh dari posisi tradisional mereka sebagai penyedia ‘satu kebenaran hakiki’ dan dapat menjadi fasilitator proses kompleks dari pembelajaran.

Siswa, di sisi lain, “dipaksa” untuk lebih aktif terlibat dalam pencarian teks. Mereka harus membuat kriteria kualitas mereka sendiri, dan mereka mau tidak mau harus berlatih berpikir kritis secara intensif. Setiap siswa juga didorong untuk bekerja di bidang minat mereka sendiri, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan bahasa dan non-bahasa mereka secara bersamaan.

Selain itu, dalam pembelajaran seperti ini siswa akan menemukan diri mereka dalam situasi yang solusinya belum jelas: mereka tidak tahu apakah mereka dapat menemukan teks yang cocok, mereka harus membentuk pendapat mereka, membuat keputusan, mempresentasikan hasil kerja mereka kepada teman sekelas dan harus siap untuk menanggapi reaksi teman-teman sekelasnya.

Singkatnya, pendekatan kreatif dalam pengajaran bahasa didasarkan pada gagasan bahwa setiap siswa dapat menjadi kreatif ketika mereka terlibat dalam situasi kreatif, di lingkungan kelas yang aman, fleksibel, dan dinamis. Dengan menjadi individu yang kreatif seseorang memiliki potensi untuk memperkaya kehidupan dan membantu berkontribusi lebih baik pada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Send this to a friend