" A good education can change anyone, a good teacher can change everything "

Mengapa LIA?

Lembaga Bahasa LIA memiliki 9 elemen inti pembelajaran (Nine Core Elements) yang dirancang untuk mengakomodir kebutuhan yang semakin besar akan pembelajaran yang bermutu tinggi dan berbasis digital. Dengan pengalaman 60 tahun di bidang pengajaran Bahasa Inggris, LIA telah dan akan terus menjunjung tinggi kualitas pendidikan dengan cara-cara yang inovatif, demi tercapaianya tujuan belajar siswa secara efektif dan berkelanjutan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, cara belajar siswa mengalami perubahan dari generasi ke generasi. LIA memandang hal ini sebagai sesuatu yang positif dan mendorong guru-gurunya untuk memilliki fleksibilitas sehingga mampu menyesuaikan cara mengajar mereka dengan gaya belajar generasi saat ini. Hal ini sejalan dengan semangat self-development yang selama ini telah diusung oleh LIA secara konsisten.
LIA membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21, yakni komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas. Kegiatan belajar dirancang untuk melatih siswa berkomunikasi, berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas, berpikir kritis, dan kreatif dalam mencari solusi terhadap masalah. LIA menciptakan lingkungan yang kondusif dengan memberikan kepada siswa pilihan (choice) untuk mengerjakan tugas sesuai dengan minatnya dan dengan memperhatikan kebutuhan siswa (care).
Siswa LIA didorong untuk mengelola pembelajaran mereka sendiri. Sebelum sesi tatap muka di kelas, siswa mengakses materi pembelajaran di platform digital, mengerjakan tugas, dan menerima umpan balik langsung. Saat belajar di kelas, siswa mengkonsolidasikan pembelajarannya (memperkuat pemahamannya), memperbanyak latihan, dan berkolaborasi dengan teman-temannya dalam menyelesaikan tugas.
Materi pembelajaran yang disusun oleh Tim Penulis LIA yang berpengalaman dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa LIA saat ini, yakni mereka yang termasuk dalam Generasi Z dan Alpha. Materi dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan tidak hanya kompetensi berbahasa siswa, tetapi juga sikap belajar (learning attitude) dan kecakapan hidup (life skills) mereka.
Kurikulum, tugas, penilaian, dan lingkungan kelas dirancang untuk mengakomodasi tingkat kesiapan dan pencapaian setiap individu. Setiap siswa LIA akan melakukan kegiatan berdasarkan tingkat kemahiran mereka. Guru akan menyiapkan beragam materi dan tugas yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan kemampuan masing-masing siswa, sehingga tingkat pencapaian hasil belajar mereka menjadi lebih baik.
Siswa LIA didorong untuk mandiri melalui metode flipped learning yang mengharuskan mereka untuk bersikap proaktif dalam proses pembelajaran. Metode ini memungkinkan mereka untuk mengukur kemajuan belajar mereka sendiri (melalui umpan balik yang didapat setelah mengerjakan materi flipped) dan memahami hal-hal apa yang perlu diperbaiki dari cara belajarnya untuk mencapai hasil yang lebih optimal.
Agar pemahaman terhadap pelajaran lebih komprehensif dan dapat dicapai dengan mudah, bahan ajar dan kegiatan di kelas dipersiapkan sedemikian rupa oleh guru agar berhubungan dengan minat dan pengalaman siswa dalam kehidupan nyata. Materi yang dikemas dalam konteks yang sejalan dengan preferensi dan situasi riil yang dihadapi siswa dalam keseharian mereka ini diharapkan akan membantu mereka untuk berpikir kritis dan lebih terlibat serta bersemangat dalam proses belajar.

Siswa, guru, dan seluruh karyawan LIA adalah individu yang:

  • Fun: menyenangkan dan ramah (memiliki jiwa melayani),
  • Interactive: berkomunikasi dengan baik,
  • Explorative: aktif mencari hal-hal baru yang dapat meningkatkan produktivitas,
  • Systematic: belajar/bekerja secara terencana dan komprehensif,
  • Technology Savvy: fasih teknologi, dan
  • Autonomous: mandiri.
Lembaga Bahasa LIA memastikan bahwa siswanya belajar dengan cara yang menyenangkan melalui kegiatan yang komunikatif, dan interaktif. Siswa LIA belajar bagaimana cara belajar yang efektif melalui penerapan berbagai strategi dalam menyelesaikan tugas. Mereka juga belajar lebih dari sekedar bahasa Inggris, dalam arti bahwa mereka tidak hanya belajar keterampilan berbahasa Inggris tetapi juga kecakapan hidup (life skills) dan konten atau mata pelajaran yang terintegrasi di dalam materi ajar.
3+